The Faithful Tiger (Panyalahan Village) Picture Book Version

A Folklore from West Java (Indonesian Folklore)

Related Link >> The Story of Panyalahan Village


They lived happily with their baby.


When the couple went to work in the paddy field, the tiger looked after their baby.


Before they left, they asked the tiger to look after their baby.


The tiger nodded.


So, the couple went to the field. They worked from morning until afternoon.





When the couple arrived home, the tiger welcomed them.


The tiger acted differently. The husband became suspicious.


Then he remembered his baby. He thought the tiger had eaten the baby.







 Their babywas not eaten by the tiger.


 The snake was dead and full of blood.


"The tiger must have killed him. He had saved our baby, but I killed him. Oh, my God! What have I done? I am so sorry. Forgive me, my dear tiger. Forgive me, please?”

The couple felt very guilty. They have killed their faithful tiger. It all happened because they did not check the baby first before they killed the tiger.

Since then, the couple’s village was called Panyalahan. The word Panyalahan derives from the word “nyalahan”, which means “wrong guess”.


Kisah Desa Panyalahan (Harimau yang Setia)

Cerita Rankyat dari Jawa Barat

Pada jaman dahulu di Tasikmalaya, Jawa Barat, hiduplah pasangan muda. Mereka adalah petani. Mereka hidup bahagia bersama bayi mereka. Pasangan itu juga memiliki beberapa ekor hewan. Salah satunya adalah seekor harimau. Ketika pasangan ini pergi untuk bekerja di sawah, harimau menjaga bayi mereka.

Seperti biasa, pasangan ini pergi ke sawah. Sebelum mereka pergi, mereka meminta harimau untuk menjaga bayi mereka.

"Kami akan pergi ke sawah sekarang. Tolonglah jaga bayi kami, ya? "

Harimau mengangguk.

Kemudain pasangan ini pergi ke sawah. Mereka bekerja dari pagi sampai sore. Ketika pasangan tiba di rumah, harimau menyambut mereka. Harimau bertingkah tidak seperti biasanya. Dia mengibaskan ekornya dan mengusap tubuhnya pada kaki pasangan itu. Dia tampak sangat senang. Sang suami menjadi curiga.

"Mengapa harimau ini berperilaku aneh? Dia tidak bertingkah seperti biasa," pikirnya.

Suami melihat harimau dengan sekasama. Dia terkejut. Mulut harimau itu penuh dengan darah. Lalu ia teringat bayinya. Dia berpikir harimau telah memakan bayi mereka.

"Mengapa mulutmu penuh dengan darah?" Tanyanya pada harimau.

"Kau telah melakukan sesuatu yang buruk untuk bayi saya! Apakah Kau membunuhnya? Mengapa Kau melakukanya?" Dia sangat panik.

Lalu sang Suami mengambil pisau dan membunuh harimau dalam kemarahan. Lalu mereka berdua masuk ke dalam rumah. Mereka terkejut. Mereka saling memandang. Bayi mereka sedang tidur nyenyak di buaian. Dia tidak dimakan oleh harimau.

Secepatnya sang istri mengambil bayi itu dan menciumnya. Bayi terbangun. Dia membuka matanya dan tersenyum. Pasangan ini menemukan seekor ular yang sangat besar di bawah ayunan. Ular itu mati dan penuh dengan darah.

"Oh, Sayang," kata sang suami.

"Kita telah telah keliru. Ternyata harimau tidak bersalah! Lihatlah ada ular mati. Pasti harimaulah yang membunuhnya. Dia telah menyelamatkan bayi kita, tapi Aku malah membunuhnya. Oh, Tuhan! Apa yang telah kulakukan? Aku sangat menyesal. Maafkan aku, harimau tersayang. Kumohon maafkan Aku."

Pasangan ini merasa sangat bersalah. Mereka telah membunuh harimau setia mereka karena mereka tidak memeriksa bayi mereka terlebih dahulu sebelum membunuh harimau.

Sejak saat itu, desa tempat tinggal pasangan itu disebut Panyalahan. Kata Panyalahan berasal dari kata "nyalahan", yang berarti "salah tebak".

No comments: