Kuda Legendaris Indonesia

Si Windu

Si Windu atau nama lengkapnya Winduhaji (Menurut sumber buku Cirebon PS Sulendraningrat) adalah kuda putih, kecil yang lincah dan hebat sejenis kuda Sumbawa (Sandalwood Pony) yaitu jenis kuda kuningan yang dimiliki oleh penguasa Kuningan Adipati Ewangga atau Suranggajaya (1478 M) yang tercatat dengan tinta emas dalam sejarah Kuningan, Jawa Barat, Indonesia.

Foto: Patung Si Windu

Sang Adipati, seorang panglima pasukan dari Kuningan yang gagah berani sakti mandraguna, menunggangi kuda peliharaannya dalam perjalanan perang untuk bertempur membantu Cirebon menundukkan Galuh, Wiralodra (Indramayu), bahkan ke Sundakalapa menundukkan Portugis. Kegesitan dan kelincahan Si Windu terlihat ketika Sang Adipati Kuningan bertempur dengan Prabu Wiralodra yang menunggang gajah. Dengan ketangguhan dan kegesitan kuda “Si Windu” pertempuran tersebut akhirnya dimenangkan Sang Adipati Kuningan. Pemberian nama Kelurahan Winduhaji adalah untuk memberikan kenangan sejarah, memberikan penghargaan/jasa terhadap kisah heroik kuda kuningan Si Windu” atau “Si Winduhaji”.

Kuda Windu dari Kabupaten Kuningan pada abad ke XV dikenal sebagai kuda perang. Namun sedikit buku yang menceritakan tentang kuda perang di Kuningan ini. Dalam buku hasil Dr. Edi Ekadjati (alm) tentang Sejarah Kuningan yaitu perjalanan dari Prasejarah hingga terbentuknya Kabupaten Kuningan, menuliskan bahwa kuda peliharaan Dipati Ewangga (panglima pasukan di Kuningan), yakni Si Windu, merupakan kuda perang yang berbadan kecil namun tangguh.

Dalam riwayat singkat tentang hari jadi kota Kuningan juga diulas bahwa Kuda Windu ikut dalam perang Adipati Kuningan bertempur bersama Kerajaan Cirebon untuk menundukkan kerajaan Galuh. Kuda Windu ikut berperang dan mendirikan pemerintahan Wiralodra di Indramayu pada saat itu. Dan bersama Cirebon, pasukan dari Kuningan juga menggempur Sunda Kelapa dan ikut serta mendirikan pemerintahan Jayakarta. Setelah kejadian itu, catatan tentang Kuda Kuningan tidak ada lagi, sehingga sulit untuk melacak keturunan dari Kuda Windu ini

Hingga sekarang, keberadaan kuda Kuningan secara genetis belum pernah diteliti. Namun beberapa spekuklasi menyatakan bahwa kuda Kuningan merupakan kuda peranakan dari Bima yang dibawa menggunakan kapal melalui pelabuhan Cirebon. Kuda yang berada di Kuningan sekarang merupakan Kuda hasil jual beli, sehingga Kuda Kuningan sebagai Kuda Perang yang sering digunakan dalam Tradisi Saptonan yang melegenda di kalangan Masyarakat Kuningan ini menjadi sebatas cerita, ia berganti dengan kuda penarik delman yang berasal dari berbagai kota lain.

Semoga, dengan teknologi dan penelitian yang dilakukan pada suatu saat nanti, yang mungkin saja akan dilakukan oleh ahlinya dapat menjelaskan terperinci mengenai si Windu Kuda Perang Kuningan yang kemudian akan digunakan dalam tradisi saptonan sebagai kebanggaan Masyarakat Kuningan. Kecilkecil Kuda Kuningan.

Gagak Rimang

Gagak Rimang adalah kuda (kuda Sumbawa (Sandalwood Pony) berwarna hitam yang digambarkan kuat dan lincah) andalan Arya Penangsang atau Arya Jipang atau Ji Pang Kang seorang Bupati Jipang Panolan (1549 M) (sekarang cepu, blora, Jawa Tengah, Indonesia). Menurut legenda kuda ini mampu melompat menyemberangi sungai Bengawan Solo.  Ketika tuannya terbunuh, kuda ini hilang misterius.

Cerita lain berkisah bahwa Gagak Rimang adalah nama seekor kuda tunggangan Haryo Penangsang. Haryo Penangsang sendiri adalah seorang adipati dari Jipang Panolan (daerah Blora Jateng sekarang) yang memberontak karena masalah tahta Demak. Tahta Kerajaan Demak yang 'dicuri' oleh Jaka Tingkir dari Pajang (Solo sekarang), itulah yang mebuat Haryo Penangsang merasa berang.

Haryo Penangsang menyerang Jaka Tingkir yang menjadi Raja di Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya-I. Kiprah Haryo Penangsang sangat menggiriskan Pajang. Dalam berbagai pertempuran, banyak pasukan Pajang telah dikalahkan oleh Jipang yang dipimpin Haryo Penangsang.

Kehebatan Haryo Penangsang ini didukung oleh arsenal tempur sang adipati yang handal, yaitu GAGAK RIMANG. Seekor kuda jantan besar, berbulu hitam mengkilat yang kekuatan serta kelincahannya amat luar biasa. Dengan mengendarai Gagak Rimang, Haryo Penangsang menjadi sulit didekati atau disergap oleh musuh.

Menyadari bahwa andalan utama Haryo Penangsang dalam bertempur adalah Gagak Rimang. Penasihat Sultan Hadiwijaya, ki Ageng Pemanahan memberikan saran taktis untuk mengalahkan Haryo Penangsang dalam suatu duel. Pemanahan mengirimkan putra kandungnya sendiri yaitu Sutawijaya (kelak menjadi Raja Mataram-I bergelar Panembahan senopati) untuk melawan Haryo Penangsang. Taktik untuk melumpuhkan daya perang Gagak Rimang dilakukan sutawijaya dengan menunggang Kuda Betina.

DiMedan Laga, Gagak Rimang yang melihat Kuda Betina menjadi Birahi! sehingga sulit dikendalikan oleh Haryo Penangsang. Kesempatan itu digunakan sutawijaya untuk menjatuhkan Haryo Penangsang dari punggung Gagak Rimang serta dalam suatu kesempatan berhasil membunuh Haryo Penangsang.

Konon menurut mitos, saking perkasa dan "panas"nya pembawaan Gagak Rimang, sampai sekarang rumput atau tumbuhan apapun tidak bisa tumbuh di tanah bekas istalnya di daerah Blora.

Pesan Moral dari Simbah Kakung:
Pandai-pandailah mengelola Birahi, karena barang siapa mengumbar birahi niscaya akan mendapatkan kehancuran dan kekalahan. Segagah dan seperkasa apapun dia.

Nila Ambara (Kuda Ronggolawe)


Nila Ambara adalah kuda (kuda Sumbawa (Sandalwood Pony) berwarna hitam yang digambarkan kuat dan lincah) andalan Ranggalawe atau Rangga Lawe salah satu pengikut Raden Wijaya yang berjasa besar dalam perjuangan mendirikan Kerajaan Majapahit, namun meninggal sebagai pemberontak pertama dalam sejarah kerajaan ini akibat dianggap menyusun pemberontakan di Tuban (sekarang tuban, Jawa Timur, Indonesia) (1295 M). Kuda Nila Ambara tewas kena tusuk tombak dalam pertempuran di sungai tambak beras (sungai kecil di Jawa Timur).

No comments: